Nomor Kontainer Amunisi Tak Valid

Pengimpor Banyak Memiliki Kantor Cabang

Senin, 09 Oktober 2017 | 08:00
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Foto : ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID - Setelah polemik senjata Stand Alone Granade Launcher (SAGL) beserta amunisi milik Korps Brimob Polri mereda, kini muncul kabar baru. Kali ini, beredar pesan berantai di media sosial (medsos) terkait salah satu kontainer berisikan ratusan ribu amunisi senjata api tiba di Terminal Peti Kemas (TPK) Koja di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Kamis (5/10) malam lalu.

Dalam pesan tersebut, kontainer berukuran 20 VIT dengan Nomor 249273 ( 0 22 G 1 ) berisikan 500 boks yang berisi 500.000 butir amunisi kaliber 9 milimeter (mm), telah tiba pada pukul 22.00 WIB dengan menggunakan kapal kontainer Hyundai Supreme asal Korea Selatan (Korsel). 

Muatan itu lalu diturunkan dari kapal pada keesokan harinya yakni, Jumat (6/10) lalu sekitar pukul  15.10 WIB. Selanjutnya, pukul 16.15 WIB dibawa ke Gudang Mabes Polri dengan kendaraan trailer nomor polisi (nopol) B 9304 WV dan didampingi Lettu inf Ratno Hadi dari Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI.

Dalam pesan berantai juga dituliskan berbagai macam amunisi dengan total 14 jenis amunisi dengan ukuran atau kaliber yang berbeda-beda. (selengkapkan lihat di grafis).

Untuk memastikan pesan berantai tersebut, Indopos pun mendatangi TPK Koja di Pelabuhan Tanjung Priok. Seorang sekuriti pelabuhan lantas menyarankan untuk menghubungi customer services. Indopos pun menanyakan kebenaran kedatangan kontainer yang tiba di pada Kamis lalu. Sayang, nomor kontainer yang tertera ternyata tidak valid.  Ratusan ribu butir peluru tersebut yang diangkut dengan tertera nomor kontainer HDMU 249273 berukuran 20 feet, tak ditemukan. 

Sebab, dari nomornya saja hanya enam digit. Padahal biasanya, nomor kontainer pasti tertera tujuh digit. ”Kok enam digit, mestinya tujuh. Nggak ada nomor itu, di komputer tidak ditemukan,” kata salah satu Costumer Service TPK Koja yang enggan disebutkan namanya. 

Tidak validnya nomor kontainer yang tertera memastikan pengiriman tersebut terbilang ilegal. Sebab keluar masuknya barang harus terdaftar melalui TPK Koja. Dan biasanya, sebelum mengeluarkan dan memasukkan barang, yang bersangkutan selalu mengumpulkan berkas. ”Di sini hanya melayani administrasinya. Jadi harus kumpul berkas, baru barang itu diberikan izin masuk ataupun keluarkan barang,” jelasnya. 

Perihal barang-barang dari luar negeri, lanjut dia, setelah barang tiba selalu mendapatkan pengecekan dari petugas Bea Cukai. ”Biasa dicek dulu sama Bea Cukai kalau barang dari luar negeri,” singkatnya. 

Nah, mengapa ratusan ribu butir peluru bisa lolos? Karena sebelumnya, dikabarkan pada Jumat lalu sebuah kontainer dengan nomor polisi B 9304 WV membawa 500.000 ribu butir peluru telah berhasil keluar dari TPK Koja dengan nomor kontainer HDMU 249273.

 

 

Importir Ayah Pembalap Rio?

Nama Sinyo Haryanto mungkin tidak asing lagi. Ayah kandung pembalap F1 asal Indonesia, Rio Haryanto disebut-sebut sebagai pemilik PT Bintang Cakra Kencana (BCK), perusahaan yang mengimpor ratusan ribu amunisi itu. Dalam pesan berantai yang beredar, perusahaan tersebut beralamat di Jalan Raya Solo-Semarang Km 15 Desa Batan, Kecamatan Banyu Dono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Informasi lain menyatakan bahwa perusahaan yang sama ada di Jalan Nusantara Timur Blok D Nomor 44, Sunter Sacna, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Pada Sabtu (7/10) lalu, INDOPOS pun mencoba mengecek keberadaan PT BCK di Tanjung Priok. Tak mudah mencari keberadaan kantor tersebut, karena terletak agak jauh dari pusat pelabuhan. Setelah berkeliling dan menanyakan kepada beberapa orang di jalan, akhirnya kantor itu ditemukan di komplek Sunter Sacna. Di sekitarnya ada beberapa kantor lain dengan gerbang utama dijaga seorang sekuriti. 

Dari luar kantor PT BCK, beberapa sepeda motor tampak terparkir di gedung 3 lantai itu. Dengan cat kuning tanpa plang nama perusahaan, kantor tersebut akan sulit ditemui jika tanpa bertanya. "Ini betul Kantor PT BCK?"tanya INDOPOS pada seseorang yang sedang menyuci sepeda motor tepat di depan gedung.

"Iya. Ada apa mas,"balas orang itu. Koran ini pun menyatakan maksud dan tujuan kedatangannya yakni, untuk mengkonfirmasi kebenaran pesan berantai yang beredar. Sayang, tidak satupun pimpinan perusahaan atau jajaran manajer yang ada di kantor. Ini karena para karyawan hanya masuk setengah hari pada Sabtu lalu.

Tidak kehilangan akal, INDOPOS mencoba meminta nomor kontak sang pimpinan. Namun pria yang enggan menyebutkan namanya itu tidak berani. Hanya saja, ia mencoba menghubungi sang atasan dengan telepon genggam miliknya. Lalu mengizinkan INDOPOS untuk berbicara. " Ini Direktur Perusahaan, Pak Sanjaya," kata pria tadi sambil memberikan telepon seluler miliknya.

Dari balik telepon genggam, Sanjaya membenarkan bahwa dirinya merupakan Direktur PT BCK. Saat ditanyakan apakah perusahaan yang dia pimpin melakukan impor amunisi, Sanjaya membantah. "Ooo bukan. Itu perusahaan kami yang di Solo (Jalan Raya Solo-Semarang, Boyolali, Red). Beda departemen, bukan di sini (Jakarta, Red). Kalau di sini hanya bidang percetakan. Bukan impor amunisi," jawab dia.

Dijelaskannya, PT BCK memiliki beberapa cabang. Salah satunya di Solo. Masing-masing cabang memiliki departemen yang berbeda-beda, termasuk yang di Jakarta. Hanya bergerak di bidang percetakan kertas. "Memang kami sama. Tapi beda departemen. Sebaiknya konfirmasi ke sana (Boyolali, Red),"sambungnya.

Kemudian, INDOPOS mencoba meminta kontak person PT BCK yang terdapat di Boyolali. Namun Sanjaya tidak mau memberikan."Wah nggak berani saya," sambungnya. Soal kepastian apakah PT BCK di Boyolali yang melakukan impor amunisi? Sanjaya mengiyakan.

Setelah berbincang melalui sambungan seluler, koran ini sempat bertanya kepada beberapa karyawan tadi. Ia mengatakan bahwa PT BCK merupakan milik Sinyo Haryanto yakni, ayah kandung Rio Haryanto, pembalap F1 asal Indonesia. Setahu dia, Sinyo memang memiliki hobi menembak. Ia juga mengetahui bahwa bosnya itu kerap mengimpor senjata atau amunisi.

Dari informasi tersebut, INDOPOS mencoba mencari akses Sinyo Haryanto. Sayangnya, dari nomor selular sang istri, Indah Pennywati juga gagal. Itu dikarenakan beberapa panggilan yang dilayangkan tidak dijawab. Begitu pula dengan pesan singkat yang dikirim.

Sebelumnya, pengiriman amunisi itu menuju Mabes Polri. Namun Polri menjelaskan bahwa amunisi tersebut milik Pengurus Besar Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (PB Perbakin). "Bukan, itu (amunisi, Red) mesti dicek Mabes Polri, dengan tujuan untuk PB Perbakin," kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto saat dimintai konfirmasi wartawan, Jumat (6/10) lalu.

Setyo mengatakan, amunisi peluru itu tidak disimpan di gudang Mabes Polri, melainkan gudang senjata di Lapangan Tembak Senayan milik Perbakin. "Nggak ada gudang Mabes Polri, itu dicek, dibawa ke Senayan. Tapi dicek Mabes Polri dulu, gudang Lapangan Tembak Senayan, tapi sebelumnya dicek petugas Mabes Polri," jelas Setyo.

Ditambahkan dia, amunisi peluru itu sejatinya akan digunakan untuk keperluan perlombaan yang akan langsungkan PB Perbakin. Amunisi dikirimkan atas nama Ketua Umum PB Perbakin Bambang Trihatmodjo. "Itu milik Perbakin, mau ada pertandingan dan pelatihan. Itu kan kepadanya ke Pak Bambang Trihatmodjo, ketua Perbakin, ya anak Pak Harto (mantan Presiden Soeharto, Red," sebut Setyo. (ham/arp/nda/dil)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%