Ketika Riset Saiful Mujani Unggulkan Jokowi

SMRC: Bisa Kami Pertanggungjawabkan

Sabtu, 07 Oktober 2017 | 08:00
Share:
Facebook Share
Twitter Share
Google Plus Share
Foto : ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID - Survei Saiful Mujani Research & Consulting ( SMRC) membeberkan validasi hasil surveinya terhadap dua calon presiden, yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto yang mengunggulkan Jokowi. SMRC membantah tudingan yang menyebutkan riset mereka adalah upaya membentuk opini bahwa Jokowi masih kuat. Sementara survey lainnya menyebutkan elektabilitas Jokowi terus melorot.

Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan mengatakan, metode survei yang telah dilakukan oleh SMRC telah sesuai dengan ketentuan lembaga survei. Hasilnyapun valid dan dapat dipertanggung jawabkan.

"Kita (SMRC) valid dan dapat dipertanggung jawabkan. BIla ingin gamblang silahkan baca alporannya di www.saifulmujani.com," ungkapnya kepada INDOPOS saat dihubungi, Jumat (6/10).

Djayadi menuturkan, pihaknya melakukan survei dari populasi usia 17 tahun atau sudah menikah dan berwarga negara Indonesia. Mereka dipilih secara random (multistage sampling) 1.220 responden. Responden yang dapat diwawancarai secara valid sebesar 1.057 atau 87%. 

"Sebanyak  1.57 inilah yang kahirnya dianalisis. Margin of eror rata-rata untuk masing-masing survei dengan ukuran sampel tersebut sebesar plus minus 3,1% pada tingkat kepercayaan 95%," terangnya.

Sedangkan untuk wilayah yang disurvei, sambung Djayadi, adalah 34 provinsi yang ada di Indonesia dan etnisnya terdapat delapan. Semua itu dihasilkan, bila dukungan publik pada Jokowi semakin menguat. Jika hanya ada dua nama calon presiden, Jokowi dan Prabowo Subianto, maka Jokowi akan meraih 57 persen suara jika pemilihannya dilakukan sekarang (September 2017). Dukungan ini naik dari 53,7 persen pada Mei 2017. Sementara dukungan pada Prabowo cenderung turun dari 37,2 persen (Mei 2017) menjadi 31,8 persen (September 2017).

"Dalam tiga tahun terakhir, bagaimanapun simulasinya, elektabilitas Jokowi cenderung naik, dan belum ada penantang cukup berarti selain Prabowo. Prabowo pun cenderung tidak mengalami kemajuan,” ujarnya.

Dalam jawaban spontan, lanjutnya, dukungan untuk Jokowi pada September 2017 ini sebesar 38,9%, dan Prabowo 12%. Nama-nama lain di bawah 2%. Dalam bentuk pertanyaan semi terbuka, dukungan kepada Jokowi sebesar 45,6%, disusul Prabowo 18,7%, SBY 3,9%. Nama-nama lain di bawah 2%.

Penguatan dukungan publik pada Jokowi, menurut Djayadi , paralel dengan tingkat kepuasan publik yang saat ini mencapai 68 persen atau menguat 1 persen dari survei sebelumnya. Kalau dibandingkan dengan pengalaman SBY yang sama-sama petahana dua tahun menjelang pilpres 2009, kepuasan pada Jokowi lebih tinggi. Kepuasan pada kinerja Presiden SBY pada September-Oktober 2006 sebesar 67% dan September 2007 turun menjadi 58%, sedangkan pada Presiden Jokowi pada 2016 sebesar 69%, dan September 2017 sebesar 68% (relatif stabil).

Salah satu penjelesan kenapa tingkat kepuasan pada Jokowi lebih tinggi dari SBY di periode tiga tahun pemerintahan mereka masing-masing, beber Djayadi, adalah karena SBY waktu itu mengeluarkan kebijakan pengurangan subsidi BBM yang tidak populis. Sementara Jokowi tidak mengeluarkan kebijakan serupa dalam waktu dekat ini. Dilihat dari angka-angka ini, Djayadi menyimpulkan bahwa modal politik Presiden Jokowi di tahun menjelang pilpres 2019 lebih baik dibanding yang dimiliki Presiden SBY 2 tahun menjelang pilpres 2009.

Masih menurut Djayadi, survei ini menemukan bahwa kepuasan atas kinerja presiden Jokowi dan kabinetnya, serta elektabilitas Jokowi yang secara umum cenderung menguat konsisten dengan penilaian warga atas kondisi ekonomi dan penanggulangan berbagai masalah penting oleh pemerintah yang juga cenderung makin positif.  Ada 44,2 persen warga yang menyatakan kondisi ekonomi nasional sekarang lebih atau jauh lebih baik dari tahun lalu. Sementara yang menyatakan lebih atau jauh lebih buruk sekitar 20,6 persen. 

“Sentimen atas kondisi ekonomi nasional dan rumah tangga ini sangat terkait dengan fluktuasi inflasi yang juga menunjukkan trend menurun,” jelas Djayadi.

Selain soal calon-calon presiden, lanjutnya, survei ini juga memaparkan elektabilitas partai politik. Posisi tertinggi masih ditempati PDIP dengan 27,1 persen suara, disusul Golkar 11,4 persen, Gerindra 10,2 persen, Demokrat 6,9 persen, dan PKB 5,5 persen. Partai-partai lain masih di bawah 5 persen.  PDIP secara konsisten memperoleh dukungan terkuat dan berhasil melampaui perolehan suaranya pada pemilu 2014 dalam survei tiga tahun terakhir. Ada kecenderungan paralelitas antara trend dukungan pada partai dan dukungan pada tokoh partai. Hal itu terjadi pada PDIP dan Jokowi, Demokrat dan SBY, Gerindra dan Prabowo, juga PDIP dan Megawati.

"Tidak mudah memastikan mana yang menjadi sebab kenaikan atau penurunan dukungan? Partai terhadap calon presiden, atau sebaliknya," tuturnya.

Namun, kata Djayadi, berdasarkan pengalaman yang ada, faktor ketokohan memiliki pengaruh lebih besar terhadap partai yang memiliki assosiasi dengannya ketimbang sebaliknya. (aen)

Apa Reaksi Anda?
 Loading...
Suka
Suka
0%
Lucu
Lucu
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Aneh
Aneh
0%
Takut
Takut
0%